Tafsir Surah Abasa (Bag. 3): Takut dan Berlarian di Hari Kiamat
Setelah Allah menceritakan tentang kufurnya sebagian manusia, mereka tidak beriman kepada Allah, padahal Allah telah memberikan berbagai kenikmatan pada dirinya yang dapat dia saksikan sendiri, maka setelahnya Allah menjelaskan tentang nikmat-nikmat yang ada di alam semesta ini sebagai bukti bahwa Dia adalah Sang Maha Pencipta.
Setelah itu, Allah menjelaskan tentang keadaan manusia di hari kiamat, dimana mereka berlari kencang dan menjauh dari orang-orang dekat mereka di dunia. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَلْيَنْظُرِ الْاِنْسَانُ اِلٰى طَعَامِهٖٓ
“Maka, hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.” (QS. Abasa: 24)
Allah memerintahkan kita semua untuk merenungi berbagai makanan yang manusia makan sehari-hari. Bukan sekedar melihat lalu mengetahui ini makanan enak, ini rasanya manis, yang ini pahit, dan sebagainya. Bukan hanya itu yang Allah inginkan; akan tetapi lebih jauh, Allah ingin kita merenung bagaimana makanan ini bisa ada, siapa yang menciptakannya, bagaimana bisa makanan ini cocok dengan manusia, nikmat, dan menjadi sebab manusia tetap hidup.
Semua makanan tidak terjadi dengan tiba-tiba, akan tetapi mereka telah didesain oleh Allah agar cocok bagi manusia. Merenungi bahwa ada Dzat yang Maha Tahu akan siklus dan sistem tubuh manusia, menumbuhkan berbagai tumbuhan yang dekat dengan manusia, mengajari manusia cara bercocok tanam, serta mempermudah manusia dengan memberikan kemampuan memasak agar bisa menikmati hasilnya.
Dengan merengungi adanya nikmat makanan, yang secara umum berasal dari tanah, maka manusia bisa merenungkan bahwa Allah mampu menumbuhkan sesuatu dari tanah yang kosong dan tandus, maka Allah juga mampu menumbuhkan kembali manusia di hari kiamat nanti.
Allah kemudian menjelaskan secara umum bagaimana makanan bisa ada di tengah-tengah kita. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
اَنَّا صَبَبْنَا الْمَاۤءَ صَبًّاۙ , ثُمَّ شَقَقْنَا الْاَرْضَ شَقًّا
“Sesungguhnya Kami telah mencurahkan air (dari langit) dengan berlimpah. Kemudian, Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya.” (QS. Abasa: 26-27)
Allah menurunkan hujan dari awan yang ada di langit dengan bentuk hujan yang bermanfaat, bukan dengan sekali siraman yang akan merusak bumi, akan tetapi dengan rintikan yang lembut dan bermanfaat. Air tersebut kemudian Allah alirkan dan simpan ke berbagai lapisan bumi, sebagiannya merendam biji-biji yang ada di tanah, sebagiannya mengalir sebagai sungai, dan sebagiannya menguap menjadi awan kembali.
Setelah biji mendapatkan airnya sebagai “starter” pertumbuhan, Allah bantu tumbuhan muda yang lemah ini dengan cara membelah lapisan tanah yang ada di atasnya, agar tumbuhan ini segera bisa muncul ke atas tanah, lalu dapat menjalankan proses fotosintesis dan membuat makanan bagi dirinya sendiri.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاَنْۢبَتْنَا فِيْهَا حَبًّاۙ , وَّعِنَبًا وَّقَضْبًاۙ , وَّزَيْتُوْنًا وَّنَخْلًاۙ , وَّحَدَاۤىِٕقَ غُلْبًا
“Lalu, Kami tumbuhkan padanya biji-bijian, anggur, sayur-sayuran, zaitun, pohon kurma, kebun-kebun (yang) rindang, buah-buahan, dan rerumputan.” (QS. Abasa: 27-31)
Kemudian tumbuhlah berbagai tumbuhan dengan bermacam-macam kegunaanya bagi manusia, sebagian sebagai makanan pokok, sebagian sebagai buah yang segar, sebagian sebagai obat, sebagian sebagai bahan perabot rumah, sebagian sebagai makanan bagi hewan ternak, dan berbagai kegunaan lainnya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِاَنْعَامِكُمْ
“(Semua itu disediakan) untuk kesenanganmu dan hewan-hewan ternakmu.” (QS. Abasa: 32)
Sebuah ayat yang seharusnya kita renungi dalam-dalam, kemudian berlinanglah air mata kita, karena begitu besar nikmat yang Allah berikan kepada manusia. Allah berikan berbagai fasilitas hidup bagi segala makhluk yang ada di bumi ini semuanya untuk kebutuhan manusia. Kebutuhan untuk mempertahankan hidupnya serta memiliki keturunan. Setelah itu, seharusnya manusia sadar bahwa satu-satunya yang berhak disembah adalah Allah, yang telah merancang sistem hidup seindah ini.
Allah sebutkan berbagai kenikmatan dunia ini, selanjutnya manusia akan dimintai pertanggungjawaban tentang bagaimana nikmat-nikmat ini digunakan, apakah untuk taat kepada Allah atau malah menggunakannya untuk menentang Allah.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
فَاِذَا جَاۤءَتِ الصَّاۤخَّةُ
“Maka, apabila datang suara yang memekakkan (dari tiupan sangkakala).” (QS. Abasa: 33)
Suara yang sangat keras dan memekakkan telinga ini adalah tiupan sangkakala ketika kiamat tiba. Al-Baghawi rahimahullah menjelaskan,
قال البغوي: الصاخة: يعني صيحة يوم القيامة، سميت بذلك؛ لأنها تصخّ الأسماع وتصمّ الآذان لشدتها، أي تبالغ في إسماعها حتى تكاد تصمّها
“As-Shakhkhah bermakna pekikan (suara dahsyat) hari kiamat. Ia dinamakan demikian karena suaranya yang memekakkan pendengaran dan menulikan telinga karena saking dahsyatnya. Artinya, suara tersebut sangat mengerikan dan keras menusuk pendengaran hingga hampir-hampir membuatnya tuli.”
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
يَوْمَ يَفِرُّ الْمَرْءُ مِنْ اَخِيْهِۙ , وَاُمِّهٖ وَاَبِيْهِۙ , وَصَاحِبَتِهٖ وَبَنِيْهِۗ , لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ
“Pada hari itu, manusia lari dari saudaranya, (dari) ibu dan bapaknya, serta (dari) istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 34-37)
Ketika telah ditiupkan sangkakala yang kedua kalinya, manusia muncul kembali dari kuburnya, Allah mampu untuk menyatukan kembali jasad yang telah hancur dan remuk, menyatukan anggota tubuh yang telah tercerai-berai ribuan kilo, menjadi satu jasad utuh yang sama dengan jasad yang digunakan di dunia. Allah satukan kembali dan Allah tumbuhkan jasad tersebut, kemudian Allah kembalikan ruh kepada jasadnya masing-masing tanpa ada yang tersesat menggunakan jasad orang lain.
Allah mampu melakukannya sebagaimana awal potongan surat, mampu untuk menumbuhkan biji dari dalam tanah yang gersang dan tandus.
Setelah ruh jiwa kembali kepada jasadnya, semua orang merasa takut dan berlarian, lari dengan kencang karena saking ketakutannya bahwa hari kiamat benar-benar datang. Kaum kafir yang mengingkari kiamat merasa amat takut karena ternyata yang dikabarkan telah datang, tinggal menunggu penyiksaan tiada henti di neraka.
Kaum muslimin yang meyakini hari kiamat juga merasa takut, mereka takut harus mempertanggungjawabkan semua hal yang telah dikerjakan di dunia, takut karena belum menjalankan dengan baik amanah dari Allah, takut karena ada nikmat yang harus diaudit oleh Rabb semesta alam.
Lebih mengerikan lagi, semua orang takut dan lari dari orang-orang terdekat mereka. Saudara lari dari saudaranya yang lain, anak berlari menghindari ibunya, suami berlari menghindari istrinya, orang tua juga berlari menghindari anak-anaknya. Mengapa? Karena mereka takut dituntut, takut diperberat hisabnya karena melalaikan hak orang-orang terdekat.
Semakin sering seseorang bergaul dengan seseorang, kemungkinan untuk saling melakukan kezaliman semakin besar, maka semakin takutlah seseorang bertemu orang dekatnya.
Kemudian Allah sebutkan dari urutan dengan tingkat kedekatan yang jauh dahulu, baru yang lebih dekat. Memberikan kesan bahwa tanggungjawab akan semakin berat dengan semakin dekatnya hubungan. Seakan-akan dikatakan bahwa kita akan lari dari saudara kita karena pernah manzalimi, maka lebih lagi kita akan berlari dari orang tua kita, lebih lagi kita akan berlari dari istri kita, dan lebih lagi kita berlari dari anak kita. Karena kita semakin takut akan tuntutan yang mereka layangkan kepada kita.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
لِكُلِّ امْرِئٍ مِّنْهُمْ يَوْمَىِٕذٍ شَأْنٌ يُّغْنِيْهِ
“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.” (QS. Abasa: 37)
Semua manusia sibuk merenungi amalnya, merenungi nasibnya, kemana kehidupan setelah ini? Apakah kesengsaraan yang tiada akhir, ataukah kenikmatan yang kekal abadi?.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ مُّسْفِرَةٌۙ , ضَاحِكَةٌ مُّسْتَبْشِرَةٌ ۚ
“Pada hari itu, ada wajah-wajah yang berseri-seri, tertawa lagi gembira ria.” (QS. Abasa: 38-39)
Pada hari ini, hari kiamat, manusia akan melihat bagaimana nasibya. Ada wajah-wajah yang berseri-seri dan gembira, mereka adalah kaum mukminin yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mereka juga beramal kebaikan yang ikhlas di dunia.
Maka sekaranglah saatnya untuk istirahat, menemukan kenikmatan abadi dan kekal, ditambah kenikmatan untuk melihat wajah Allah Subhanahu wa Ta’ala, Sang Pancipta kita, yang kita senantiasa rindukan. Hari itu datang, hari keabadian dalam kenikmatan, maka akan abadi wajah berseri dan gembira ini.
Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah pernah ditanya, kapan waktu kita beristirahat? Beliau menjawab ketika kita telah melangkahkan kedua kaki kita di surga. Kepada semua pembaca tulisan ini, semoga Allah pertemukan kita di surga-Nya.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,
وَوُجُوْهٌ يَّوْمَىِٕذٍ عَلَيْهَا غَبَرَةٌۙ , تَرْهَقُهَا قَتَرَةٌ ۗ , اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْكَفَرَةُ الْفَجَرَةُ ࣖ
“Pada hari itu, ada (pula) wajah-wajah yang tertutup debu (suram) dan tertutup oleh kegelapan (ditimpa kehinaan dan kesusahan). Mereka itulah orang-orang kafir lagi para pendurhaka.” (QS. Abasa: 40-42)
Namun, ada juga manusia yang wajahnya tertutup dengan debu dan kegelapan. Mereka adalah orang-orang kafir dan fasik, menggabungkan sikap tidak beriman kepada Allah dan kezaliman pada sesama makhluk. Mereka sudah mengetahui kesudahan mereka adalah neraka, selama-lamanya merasakan kesengsaraan.
Semoga Allah lindungi kita semua dari kekafiran, dari kefasikan, serta dari azab neraka.
[Selesai]
***
Penulis: Dany Indra Permana
Artikel Muslim.or.id
Catatan kaki:
Mayoritas cetakan dan halaman referensi adalah dari app turath https://app.turath.io/ dan https://tafsir.app/
Artikel asli: https://muslim.or.id/114847-tafsir-surah-abasa-bag-3.html